A. Perkembangan Motorik Anak TunanetraPerkembangan motorik anak tunanetra cendrung lambat
dibandingkan dengan anak awas pada umumnya. Keterlambatan ini terjadi
karna dalam perkembangan perilaku motorik diperlukan adanya koordinasi
fungsional antara neuromuscular system (system persyarafan dan otot) dan
fungsi psikis (kognitif, afektif, dan konatif), serta kesempatan yang
diberikan oleh lingkungan.
Pada anak tunanerta mungkin fungsi neuromuscular system tidak
bermasalah tetapi fungsi psikisnya kurang mendukung serta
menjadi
hambatan tersendiri dalam perkembangan motoriknya. Secara fisik, mungkin
anak mampu mencapai kematangan sama dengan anak awas pada umumnya,
tetapi karna fungsi psikisnya (seperti pemahaman terhadap realitas
lingkungan, kemungkinan mengetahui adanya bahaya dan cara menghadapi,
keterampilan gerak yang serba terbatas, serta kurangnya keberanian dalam
melakukan sesuatu) mengakibatkan kematangan fisiknya kurang dapat
dimanfaatkan secara maksimal dalam melakukan aktivitas motorik. Hambatan
dalam fungsi psikis ini secara langsung atau tidak langsung terutama
berpangkal dari ketidakmampuannya dalam melihat.
B. Perkembangan Emosi Anak Tunanetra
Perkembangan emosi anak tunanetra akan sedikit mengalami
hambatan dibandingkan dengan anak yang awas. Keterhambatan ini terutama
disebabkan oleh keterbatasan kemampuan anak tunanetra dalam proses
belajar. Pada awal masa kanak-kanak, anak tunanetra mungkin akan
melakukan proses belajar mencoba-coba untuk menyatakan emosinya, namun
hal ini tetap dirasakan tidak efisien karma dia tidak dapat melakukan
pengamatan terhadap reaksi lingkungannya secara tepat. Akibatnya pola
emosi yang ditampilkannya mungkin berbeda atau tidak sesuai dengan apa
yang diharapkan oleh diri maupun lingkungannya.
Perkembangan emosi anak tunanetra akan semakin terhambat bila
anak tersebut mengalami deprivasi emosi , yaitu keadaan dimana anak
tunanetra tersebut kurang memiliki kesempatan untuk menghayati
pengalaman emosi yang menyenangkan seperti kasih sayang, kegembiraan,
perhatian, dan kesenangan. Anak tunanetra yang cenderung mengalami
deprivasi emosi ini terutama adalah anak-anak yang pada masa awal
kehidupan atau perkembangannya ditolah kehadirannya oleh linkungan
keluarga atau masyarakat. Deprivasi emosi ini akan sangat berpengaruh
terhadap aspek perkembangan lain : kelambatan dalam perkembangan fisik,
motorik, bicara, intelektual dan social. Selain itu, anak yang mengalami
deprivasi emosi akan bersifat menarik diri, mementingkan diri
sendiri,serta sangat menuntut pertolongan atau perhatian dan kasih
saying dari orang-orang disekitarnya.
C. Perkembangan Sosial Anak Tunanetra
Perkembangan social berarti dikuasainya seperangkat kemampuan
untuk bertingkah laku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Bagi anak
tunanetra penguasaan seperangkat kemampuan bertingkah laku tersebut
tidaklah mudah. Anak tunanetra lebih banyak menghadapi masalah dalam
perkembangan social. Hambatan-hambatan tersebut adalah kurangnya
motivasi, ketakutan menghadapi lingkungan social yang lebih luas atau
baru, perasaan rendah diri, malu, keterbatasan anak untuk dapat belajar
social melalui proses identifikasi dan imitasi, serta sikap-sikap
masyarakat yang sering kali tidak menguntungkan : penolakan, penghinaan
dan sikap tak acuh.
Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa bagaimana perkembangan
social anak tunanetra itu sangat bergantung pada bagaimana perlakuan dan
penerimaan lingkungan terutama lingkungan keluarga terhadap anak
tunanetra itu sendiri. Bila perlakuan dan penerimaannya baik, maka
perkembangan social anak tunanetra tersebut akan baik dan begitu juga
sebaliknya.
Dra. Hj. T. Sutjihati Somantri, M.Si., psi. (2007). “Psikologi Anak Luar Biasa”.
Minggu, 17 November 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
artiklenya bagus, tapi akan lebih bagus jika diberi accecories gambar :)
Posting Komentar