Minggu, 10 November 2013

Perkembangan Kognitif Anak Tunanetra



         Manusia berhunbungan dengan lingkungan, baik sosial maupun alam melalui kemampuan inderanya. Sekalipun masing-masing indera mempunyai sifat dan karakteristik yang khas, namun dalam bekerjanya memerlukan kerjasama dan keterpaduan diantara indera-indera tersebut sehingga memperoleh pengertian atau makna yang lengkap dan utuh tentang objek di
lingkungannya. Diperlukan kerjasama secara terpadu dan serentak antara indera penglihatan, pendengaran, pencecap, perabaan, dan pembau atau penciuman untuk mendapatkan pengenalan, pengertian, atau makna yang lengkap dan utuh tentang lingkungannya.
         Akibat dari ketunanetraannya, maka pengenalan atau pengertian terhadap dunia luar anak tidak dapat diperoleh secara lengkap dan utuh. Akibatnya perkembangan kognitif anak tunanetra cenderung terhambat dibandingkan dengan anak-anak normal pada umumnya. Hal ini dikarenakan perkembangan kognitif tidak saja erat kaitannya dengan kecerdasan atau kemampuan intelegensinya, tetapi juga dengan kemampuan indera penglihatannya.
         Indera penglihatan ialah salah satu indera penting dalam menerima informasi yang datang dari luar dirinya. Sekalipun bekerjanya dibatasi oleh
ruang, namun indera ini mampu mendeteksi objek pada jarak yang jauh. Melalui indera penglihatan seseorang mampu melakukan pengamatan terhadap dunia sekitar tidak saja pada bentuknya (pada objek berdimensi dua), tetapi juga pengamatan dalam (pada objek berdimensi tiga), warna, dan dinamikanya. Melalui indera ini pula sebagian besar rangsang atau informasi akan diterima untuk selanjutnya diteruskan ke otak, sehingga timbul kesan atau persepsi dan pengertian tertentu terhadap rangsang tersebut. Melalui kegiatan-kegiatan yang bertahap dan terus-menerus seperti inilah yang pada akhirnya mampu merangsang pertumbuhan dan perkembangan kognitif seseorang sehingga mampu berkembang secara optimal.
         Anak tunanetra memiliki keterbatasan atau bahkan ketidakmampuan dalam menerima rangsang atau informasi dari luar dirinya melalui indera penglihatannya. Penerimaan rangsang hanya dapat dilakukan melalui pemanfaatan indera-indera lain diluar indera penglihatannya. Namun karena dorongan dan kebutuhan anak untuk tetap dapat mengenal dunia sekitarnya, maka anak tunanetra biasanya menggantikannya dengan indera pendengaran sebagai saluran utama penerima saluran informasi. Sedangkan indera pendengaran hanya mampu menerima informasi dari luar yang berupa suara. Berdasarkan suara seseorang hanya akan mampu mendeteksi dan menggambarkan tentang arah, sumber, jarak tentang suatu objek informasi, ukuran serta kualitas ruangan, tetapi tidak mampu memberikan gambaran yang konkret tentang bentuk, kedalaman,warna,dan dinamikanya. Tuna netra juga akan mengenang bentuk, posisi, ukuran, dan perbedaan permukaan melalui perabaan. Melalui bau yang diciumnya ia dapat mengenal seseorang, lokasi objek, serta membedakan jenis benda, walau sedikit peranannya melalui pencecapan tunanetra juga dapat mengenal objek melalui rasanya, walaupun terbatas. Karena itu, bagi tunanetra setiap bunyi yang didengarnya, bau yang diciumnya,kualitas kesan yang dirabanya, dan rasa yang dicecapnya memiliki potensi dalam pengembangan kemampuan kognitifnya. Implikasinya bahwa kebutuhan akan rangsangan sensoris bagi anak tunanetra harus benar-benar diperhatikan agar ia dapat mengembangkan pengetahuannya tentang benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang ada di lingkungannya. Kalau aktivitas omitatif pada anak normal diperoleh dengan imitasi visual, maka pada anak tunanetra harus dirangsang melalui stimuli pendengaran di samping sisa penglihatan (bagi yang memilikinya), serta indera-indera yan lainnya. Indera penglihatan memegang peranan dominan dalam proses pembentukan pengertian atau konsep, disamping indera lain dan fungsi intelektualnya. Akibatnya proses pembentukan pengeertian atau konsep terhadap rangsangan atau objek yang berada diluar dirinya tidak diperoleh secara utuh. Ketidakutuhan tersebut dikarenakan anak tiadk memiliki kesan, persepsi, pengertian, ingatan, dan pemahaman yang bersifat visual terhadap objek yang diamati. Mereka memperoleh kesan atau persepsi terutama berdasarkan pada pengamatan yang dilakukan melalui indera pendengarannya, karena pengertian yang diperoleh terutama juga terbatas pada pengertian yang bersifat verbal. Pengertian atau konsep terbentuk melalui persepsi dan diperkaya ketika anak mulai berbahasa. Karenanya pembentukan pengertian atau konsep akan sangat tergantung pada pengalaman-pengalaman sensorinya. Bagi tunanetra kehilangan salah satu sumber utama input sensorinya jelas membawa konsekuensi terhadap proses persepsinya. Beberapa konsep mungkin tidak dikenalnya. Konsep warna, arah, jarak, dan waktu adalah contoh-contoh konsep yangdikuasai tunanetra secara verbal saja, hanya berdasarkan pada apa yang dikatakan orang lain kepadanya. Penguasaan konsep demikian diperoleh melalui pengalaman-pengalaman pinjaman yang  tidak mungkin diperoleh berdasarkan hasil penghayatan sendiri.
         Dengan kata lainkecenderungan anak tunanetra menggantikan indera penglihatan dengan indera pendengaran sebagai saluran utama penerima informasi dari luar mengakibatkan pembentukan pengertian aau konsep hanya berdasarkan pada suara atau bahasa lisan. Akibatnya sering kali tidak menguntungkan bagi anak, yaitu kecenderungan pada anak tunanetra untuk menggunakan kata-kata atau bahasa tanpa tahu makna yang sebenarnya. Sehingga seringkali dikatakan bahwa anak tunanetra itu tahu, tetapi sebenarnya tidak tahu. Karena tahunya sebatas pengetahuan verbal. Untuk itu dalam pendidikan bagi anak tunanetra kiranya perlu diwaspadai adanya kesukaran-kesukaran besar dalam pembentukan pengertian atau konsep terutama terhadap pengalaman-pengalaman konkrit dan fungsional yang diperlukan bagi anak dalam kehidupan sehari-harinya.
         Dikarenakan kurangnya stimuli visual, perkembangan bahasa anak tunanetra juga tertinggal dibandingkan anak awas. Pada anak tunanetra kemampuan kosakata terbagi menjadi dua golongan, yaitu kata-kata yang berarti bagi dirinya berdasarkan pengalamannya sendiri dan kata-kata verbalistis yang diperolehnya dari orang lain dimana ia sendiri sering tidak memahaminya. Komunikasi non verbal pada tunanetra juga merupakan hal yang kurang dipahaminya, karena kemampuan ini sangat tergantung pada stimuli visual dari lingkungannya. Dalam hal pemahaman bahasa, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan anak awas., kosakata anak tunanetra cenderung bersifat definitif, anak awas cenderung bersifat luas. Seperti halnya anak awas, anak tunanetra dapat mempertahankan pengalaman-pengalaman khusus tetapi kurang terintegrasi. Anak tunanetra juga cenderung menghadapi masalah konsepualisasi yang abstrak berdasarkan pendangan yan konkret dan fungsional.
         Akibat dari ketunanetraan membawa konsekuensi terhadap terhambatnya perkembangan kognitif anak tunanetra. Hal ini dikarenakan perkembangan kemampuan kognitif seseorang menuntut partisipasi aktif, peran dan fungsi penglihatan sebagai saluran utama dalam melakukan pengamatan terhadap dunia luar. Seperti telah ditegaskan bahwa menurut Piaget, perkembangan fungsi kognitif berlangsung mengikuti prinsip mencari keseimbangan (seeking, equilibrium), yaitu kegiatan organisme dan lingkungan yang  bersifat timbal balik. Artinya lingkungan dipandang sebagai suatu hal yang terus menerus mendorong organisme untuk menyesuaikan diri dan demikian pula secara timbal balik organisme secara konstan menghadapi lingkungannya sebagai suatu struktur yang merupakan bagian dari dirinya. Tekniknya adalah dengan asimilasi dan akomodasi. Teknik asimilasi yaitu apabila individu memandang bahwa hal-hal baru yang dihadapinya dapat disesuaikan dengan kerangka berpikir atau cognitive structure yang telah dimilikinya, sedangkan teknik akomodasi yaitu apabila individu itu memandang bahwa hal-hal baru yang dihadapinya tidak dapat disesuaikan dengan kerangka berpikirnya sehingga harus mengubah cognitive structure-nya.
         Bagi anak tunanetra proses pencarian keseimbangan ini tentu tidak semudah orang awas, dikarenakan penggunaan teknik asimilasi maupun akomodasi sangat terkait erat dengan kemampuan indera penglihatan sebagai modalitas pengamatan terhadap objek atau hal-hal baru yang ada dilingkungannya. Tidak semua keutuhan realitas lingkungan dapat dengan mudah dan cepat diterima dan dijelaskan atau digambarkan melalui kata-kata atau bahasa, rabaan, rasa ataupun bau. Mellui pengamatan visual akan dengan sangat mudah dalam membantu menggambarkan relitas lingkungan terutama yang terkait dengan bentuk, kedalaman/keluasan, serta warna. Karenanya sudahdapat dipastikan bahwa penggunaan teknik asimilasi maupun akomodasi bagi anak tunanetra dala mencari keseimbangan sebagai dasar perkembangan kognitifnya akan terhambat oleh ketidakutuhan dalam memperoleh gambaran yang utuh tentang lingkungannya.
         Kesulitan besar akan terjadi dan sangat mugnkin dihadapi anak-anak apabila realitas lingkungan tersebut secara dinamis mengalami perubahan-perubahan dan dapat dengan mudah diamati melalui indera penglihatan, sementara anak tunanetra belum memperoleh informasi secara lisan terhadap perubahan tersebut. Tidak setiap perubahan realitas lingkungan disertai dengan gejala yang dapat dengan mudah dan cepat ditngkap dengan indera pendengaran, perabaan, dan indera lain yang dimiliki. Inilah yang sering kali mengakibatkan anak tunanetra berpegang teguh pada pendapatnya, karena secara visual anak tidak mampu menggunakan teknik akomodasi dan asimilasi dalam mengubah struktur kognitifnya yang sudah mapan atau terbentuk sebelumnya. Dengan kata lain bahwa ketidakmampuan anak secara visual dalam menangkap realitas lingkungan yang dinamis dan menggunakannya sebagai alat bantu yang efektif dan efisien dalam teknik asimilasi dan akomodasi dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan kognitif anak.
         Pada tahap sensori motor, yang ditandai dengan penggunaan sensorimotorik dalam pengamatan dan penginderaan yang intensif terhadap dunia sekitarnya, pada anak tunanetra prestasi intelektual dalam perkembangan bahasa mungkin bukan masalah yang besar, asal lingkungan memberikan stimuli yang kuat dan intensif terhadap anak. Tanpa stimuli tersebut bukan tidak mungkin perkembangan bahasa anak juga terhambat, dikarenakan pengamatan visual juga merupakan faktor penting dalam menumbuhkembangkan bahasa anak. Sedangkan prestasi intelektual dalam konsep tentang objek, kontrol skema, dan pengenalan hubungan sebab akibat jelas akan mengalami kelambatan. Menurut Piaget (Choirul Anam, 1985) pada tahapan ini dibandingkan anak normal, anak tunanetra akan mengalami kelambatan sekitar empat bulan.
         Pada tahap praoperasional, yang ditandai dengan cara berpikir yang bersifat tranduktif (menarik kesimpulan tentang sesuatu yang khusus atas dasar hal yang khusus; sapi disebut kerbau, serta dominasi pengamatan yang bersifat egosentris (belum memahami cara orang memandang objek yang sama) bersifat searah, maka pada anak tunanetra cenderung mengalami hambatan atau kesulitan dalam cara-cara berpikirseperti itu. Ketidakmampuannya dalam menggunakan indera penglihatan sebagai saluran informasi cenderung mengakibatkan kesulitan dalam belajar mengklasifikasikan objek-objek atau dasar satu ciri yang mencolok atau kriteria tertentu. Anak mungkin dapat melakukan klasifikasi atas dasar ciri0ciri yang menonjol berdasarkan dari proses pendengaran, perabaan, penciuman, atau pencecapan, walaupun semua itu tergantungpada ada tidaknya suara, terjangkau tidaknya oleh tangan, ada tidaknya bau serta rasa. Sedangkan klasifikasi yang berhubungna dengan bentuk, keluasan/kedalaman, atau warna cenderung sulit atau bahkan tidak dapat dilakukan. Dengan demikian secara keseluruhan pada tahap ini anak juga akan mengalami keterlambatan dan menurut Piaget (Choirul Anam, 1985) dibandingkan anak normal keterlambatan tersebut sekitar dua bulan.
         Pada tahap operasional konkrit, yang ditandai dengan kemampuannya dalam mengklasifikasikan, menyusun, mengasosiasikan angka-angka atau bilangan, serta proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika walau masih terikat dengan objek-objek yang bersifat konkrit , maka bagi anak tunanetra dalam batas-batas tertentu mungkin dapa dilakukan, namun secara umum akan sulit. Hal ini dikarenakan sistem organisasi kognitif sebelumnya yang mutlak diperlukan dalam cara-cara berpikir seperti diatas, ipada anak tunanetra tidak terorganisasi secara utuh. Disamping itu tuntutan bagi anak untuk mampu melakukan asosiasi serta operasi angka-angka atau bilangan juga sangat sulit untuk dipenuhi, sekalipun masih terikat dengan hal-hal yang konkrit. Hal iini disebabkan pengenalan atau pemahaman anak terhadap hal-hal yang sifatnya konkrit juga sangat terbatas, sedangkan dalam pengasosiasian atau pengoperasian bilangan tersebut biasanya sangat komplek dan menuntut kemampuan struktur logika metematis yang penuh dengan kaidah-kaidah atau aturan-aturan yang bersifat sosial dalam kehidupan nyata, walaupun mungkin tidak sesulit dalam pengoperasian bilangan.
         Pada tahap operasi formal, yang ditandai dengan kemampuan untuk mengoperasikan kaidah-kaidah formal yang tidak terkait lagi dengan objek-objek yang bersifat konkrit, seperti kemampuan berpikir hipotesis dedukatif (hypothetic deducative thingking), mengembangkan suatu kemungkinan  berdasarkan dua atau kebih kemungkinan (a combination thingking), mengembangkan suatu proporsisiatau dasar-dasar proporsisi yang diketahui (propositional thinking), serta kemampuan menarik generalisasi dan inferensi dari berbagai katagori objek yang bervariasi, maka pada anak tunanetra dalam hal-hal tertentu mungkin dapat dilakukan dengan baik, walaupun sifatnya sangat verbalistis. Hal ini karena didalam pemikiran operasi formal berawal dari kemungkinan-kemungkinan yang hipotetik dan teoretik dan bukan berawal dari hal-hal yang nyata. Namun demikian, karena dalam perkembangan kognitif ini sifatnya hirarkis, artinya tahapan sebelumnya akan menjadi dasar bagi berkembangnya tahapan berikutnya, maka pencapaian tahapan operasi formal ini juga tidak akan dicapai oleh anak tunanetra secara utuh. Masalah lain yang menghambat ialah kurangnya pengalaman yang luas yang disebabkan oleh terbatasnya jenis informasi yang dapat diterima serta keterbatasannya dalam orientasi dan mobillitasnya.

Dikutip dari buku “Psikologi Anak Luar Biasa” karya Dra. H. T. Sutjihati Soemantri, PsyCH.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

blognya menarik untuk dibaca :) bermanfaat juga :)

Thank You Comments Pictures