Manusia berhunbungan dengan lingkungan,
baik sosial maupun alam melalui kemampuan inderanya. Sekalipun masing-masing
indera mempunyai sifat dan karakteristik yang khas, namun dalam bekerjanya
memerlukan kerjasama dan keterpaduan diantara indera-indera tersebut sehingga
memperoleh pengertian atau makna yang lengkap dan utuh tentang objek di
lingkungannya. Diperlukan kerjasama secara terpadu dan serentak antara indera penglihatan, pendengaran, pencecap, perabaan, dan pembau atau penciuman untuk mendapatkan pengenalan, pengertian, atau makna yang lengkap dan utuh tentang lingkungannya.
lingkungannya. Diperlukan kerjasama secara terpadu dan serentak antara indera penglihatan, pendengaran, pencecap, perabaan, dan pembau atau penciuman untuk mendapatkan pengenalan, pengertian, atau makna yang lengkap dan utuh tentang lingkungannya.
Akibat dari
ketunanetraannya, maka pengenalan atau pengertian terhadap dunia luar anak
tidak dapat diperoleh secara lengkap dan utuh. Akibatnya perkembangan kognitif
anak tunanetra cenderung terhambat dibandingkan dengan anak-anak normal pada
umumnya. Hal ini dikarenakan perkembangan kognitif tidak saja erat kaitannya
dengan kecerdasan atau kemampuan intelegensinya, tetapi juga dengan kemampuan
indera penglihatannya.
Indera
penglihatan ialah salah satu indera penting dalam menerima informasi yang
datang dari luar dirinya. Sekalipun bekerjanya dibatasi oleh
ruang, namun
indera ini mampu mendeteksi objek pada jarak yang jauh. Melalui indera penglihatan
seseorang mampu melakukan pengamatan terhadap dunia sekitar tidak saja pada
bentuknya (pada objek berdimensi dua), tetapi juga pengamatan dalam (pada objek
berdimensi tiga), warna, dan dinamikanya. Melalui indera ini pula sebagian
besar rangsang atau informasi akan diterima untuk selanjutnya diteruskan ke
otak, sehingga timbul kesan atau persepsi dan pengertian tertentu terhadap
rangsang tersebut. Melalui kegiatan-kegiatan yang bertahap dan terus-menerus
seperti inilah yang pada akhirnya mampu merangsang pertumbuhan dan perkembangan
kognitif seseorang sehingga mampu berkembang secara optimal.
Anak tunanetra
memiliki keterbatasan atau bahkan ketidakmampuan dalam menerima rangsang atau
informasi dari luar dirinya melalui indera penglihatannya. Penerimaan rangsang
hanya dapat dilakukan melalui pemanfaatan indera-indera lain diluar indera
penglihatannya. Namun karena dorongan dan kebutuhan anak untuk tetap dapat
mengenal dunia sekitarnya, maka anak tunanetra biasanya menggantikannya dengan
indera pendengaran sebagai saluran utama penerima saluran informasi. Sedangkan
indera pendengaran hanya mampu menerima informasi dari luar yang berupa suara.
Berdasarkan suara seseorang hanya akan mampu mendeteksi dan menggambarkan
tentang arah, sumber, jarak tentang suatu objek informasi, ukuran serta
kualitas ruangan, tetapi tidak mampu memberikan gambaran yang konkret tentang
bentuk, kedalaman,warna,dan dinamikanya. Tuna netra juga akan mengenang bentuk,
posisi, ukuran, dan perbedaan permukaan melalui perabaan. Melalui bau yang
diciumnya ia dapat mengenal seseorang, lokasi objek, serta membedakan jenis
benda, walau sedikit peranannya melalui pencecapan tunanetra juga dapat
mengenal objek melalui rasanya, walaupun terbatas. Karena itu, bagi tunanetra setiap
bunyi yang didengarnya, bau yang diciumnya,kualitas kesan yang dirabanya, dan
rasa yang dicecapnya memiliki potensi dalam pengembangan kemampuan kognitifnya.
Implikasinya bahwa kebutuhan akan rangsangan sensoris bagi anak tunanetra harus
benar-benar diperhatikan agar ia dapat mengembangkan pengetahuannya tentang
benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang ada di lingkungannya. Kalau aktivitas
omitatif pada anak normal diperoleh dengan imitasi visual, maka pada anak
tunanetra harus dirangsang melalui stimuli pendengaran di samping sisa
penglihatan (bagi yang memilikinya), serta indera-indera yan lainnya. Indera
penglihatan memegang peranan dominan dalam proses pembentukan pengertian atau
konsep, disamping indera lain dan fungsi intelektualnya. Akibatnya proses
pembentukan pengeertian atau konsep terhadap rangsangan atau objek yang berada
diluar dirinya tidak diperoleh secara utuh. Ketidakutuhan tersebut dikarenakan
anak tiadk memiliki kesan, persepsi, pengertian, ingatan, dan pemahaman yang
bersifat visual terhadap objek yang diamati. Mereka memperoleh kesan atau
persepsi terutama berdasarkan pada pengamatan yang dilakukan melalui indera
pendengarannya, karena pengertian yang diperoleh terutama juga terbatas pada
pengertian yang bersifat verbal. Pengertian atau konsep terbentuk melalui
persepsi dan diperkaya ketika anak mulai berbahasa. Karenanya pembentukan
pengertian atau konsep akan sangat tergantung pada pengalaman-pengalaman
sensorinya. Bagi tunanetra kehilangan salah satu sumber utama input sensorinya
jelas membawa konsekuensi terhadap proses persepsinya. Beberapa konsep mungkin
tidak dikenalnya. Konsep warna, arah, jarak, dan waktu adalah contoh-contoh
konsep yangdikuasai tunanetra secara verbal saja, hanya berdasarkan pada apa
yang dikatakan orang lain kepadanya. Penguasaan konsep demikian diperoleh
melalui pengalaman-pengalaman pinjaman yang
tidak mungkin diperoleh berdasarkan hasil penghayatan sendiri.
Dengan kata
lainkecenderungan anak tunanetra menggantikan indera penglihatan dengan indera
pendengaran sebagai saluran utama penerima informasi dari luar mengakibatkan
pembentukan pengertian aau konsep hanya berdasarkan pada suara atau bahasa
lisan. Akibatnya sering kali tidak menguntungkan bagi anak, yaitu kecenderungan
pada anak tunanetra untuk menggunakan kata-kata atau bahasa tanpa tahu makna
yang sebenarnya. Sehingga seringkali dikatakan bahwa anak tunanetra itu tahu,
tetapi sebenarnya tidak tahu. Karena tahunya sebatas pengetahuan verbal. Untuk
itu dalam pendidikan bagi anak tunanetra kiranya perlu diwaspadai adanya
kesukaran-kesukaran besar dalam pembentukan pengertian atau konsep terutama
terhadap pengalaman-pengalaman konkrit dan fungsional yang diperlukan bagi anak
dalam kehidupan sehari-harinya.
Dikarenakan
kurangnya stimuli visual, perkembangan bahasa anak tunanetra juga tertinggal
dibandingkan anak awas. Pada anak tunanetra kemampuan kosakata terbagi menjadi
dua golongan, yaitu kata-kata yang berarti bagi dirinya berdasarkan
pengalamannya sendiri dan kata-kata verbalistis yang diperolehnya dari orang
lain dimana ia sendiri sering tidak memahaminya. Komunikasi non verbal pada
tunanetra juga merupakan hal yang kurang dipahaminya, karena kemampuan ini
sangat tergantung pada stimuli visual dari lingkungannya. Dalam hal pemahaman
bahasa, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan anak
awas., kosakata anak tunanetra cenderung bersifat definitif, anak awas
cenderung bersifat luas. Seperti halnya anak awas, anak tunanetra dapat
mempertahankan pengalaman-pengalaman khusus tetapi kurang terintegrasi. Anak
tunanetra juga cenderung menghadapi masalah konsepualisasi yang abstrak
berdasarkan pendangan yan konkret dan fungsional.
Akibat dari
ketunanetraan membawa konsekuensi terhadap terhambatnya perkembangan kognitif
anak tunanetra. Hal ini dikarenakan perkembangan kemampuan kognitif seseorang
menuntut partisipasi aktif, peran dan fungsi penglihatan sebagai saluran utama
dalam melakukan pengamatan terhadap dunia luar. Seperti telah ditegaskan bahwa
menurut Piaget, perkembangan fungsi kognitif berlangsung mengikuti prinsip
mencari keseimbangan (seeking, equilibrium), yaitu kegiatan organisme dan
lingkungan yang bersifat timbal balik.
Artinya lingkungan dipandang sebagai suatu hal yang terus menerus mendorong
organisme untuk menyesuaikan diri dan demikian pula secara timbal balik
organisme secara konstan menghadapi lingkungannya sebagai suatu struktur yang
merupakan bagian dari dirinya. Tekniknya adalah dengan asimilasi dan akomodasi.
Teknik asimilasi yaitu apabila individu memandang bahwa hal-hal baru yang
dihadapinya dapat disesuaikan dengan kerangka berpikir atau cognitive structure
yang telah dimilikinya, sedangkan teknik akomodasi yaitu apabila individu itu
memandang bahwa hal-hal baru yang dihadapinya tidak dapat disesuaikan dengan
kerangka berpikirnya sehingga harus mengubah cognitive structure-nya.
Bagi anak
tunanetra proses pencarian keseimbangan ini tentu tidak semudah orang awas,
dikarenakan penggunaan teknik asimilasi maupun akomodasi sangat terkait erat
dengan kemampuan indera penglihatan sebagai modalitas pengamatan terhadap objek
atau hal-hal baru yang ada dilingkungannya. Tidak semua keutuhan realitas
lingkungan dapat dengan mudah dan cepat diterima dan dijelaskan atau
digambarkan melalui kata-kata atau bahasa, rabaan, rasa ataupun bau. Mellui
pengamatan visual akan dengan sangat mudah dalam membantu menggambarkan relitas
lingkungan terutama yang terkait dengan bentuk, kedalaman/keluasan, serta
warna. Karenanya sudahdapat dipastikan bahwa penggunaan teknik asimilasi maupun
akomodasi bagi anak tunanetra dala mencari keseimbangan sebagai dasar
perkembangan kognitifnya akan terhambat oleh ketidakutuhan dalam memperoleh
gambaran yang utuh tentang lingkungannya.
Kesulitan besar
akan terjadi dan sangat mugnkin dihadapi anak-anak apabila realitas lingkungan
tersebut secara dinamis mengalami perubahan-perubahan dan dapat dengan mudah
diamati melalui indera penglihatan, sementara anak tunanetra belum memperoleh
informasi secara lisan terhadap perubahan tersebut. Tidak setiap perubahan
realitas lingkungan disertai dengan gejala yang dapat dengan mudah dan cepat
ditngkap dengan indera pendengaran, perabaan, dan indera lain yang dimiliki.
Inilah yang sering kali mengakibatkan anak tunanetra berpegang teguh pada
pendapatnya, karena secara visual anak tidak mampu menggunakan teknik akomodasi
dan asimilasi dalam mengubah struktur kognitifnya yang sudah mapan atau
terbentuk sebelumnya. Dengan kata lain bahwa ketidakmampuan anak secara visual
dalam menangkap realitas lingkungan yang dinamis dan menggunakannya sebagai
alat bantu yang efektif dan efisien dalam teknik asimilasi dan akomodasi dapat
mengakibatkan terhambatnya perkembangan kognitif anak.
Pada tahap
sensori motor, yang ditandai dengan penggunaan sensorimotorik dalam pengamatan
dan penginderaan yang intensif terhadap dunia sekitarnya, pada anak tunanetra prestasi
intelektual dalam perkembangan bahasa mungkin bukan masalah yang besar, asal
lingkungan memberikan stimuli yang kuat dan intensif terhadap anak. Tanpa
stimuli tersebut bukan tidak mungkin perkembangan bahasa anak juga terhambat,
dikarenakan pengamatan visual juga merupakan faktor penting dalam
menumbuhkembangkan bahasa anak. Sedangkan prestasi intelektual dalam konsep
tentang objek, kontrol skema, dan pengenalan hubungan sebab akibat jelas akan mengalami
kelambatan. Menurut Piaget (Choirul Anam, 1985) pada tahapan ini dibandingkan
anak normal, anak tunanetra akan mengalami kelambatan sekitar empat bulan.
Pada tahap
praoperasional, yang ditandai dengan cara berpikir yang bersifat tranduktif (menarik
kesimpulan tentang sesuatu yang khusus atas dasar hal yang khusus; sapi disebut
kerbau, serta dominasi pengamatan yang bersifat egosentris (belum memahami cara
orang memandang objek yang sama) bersifat searah, maka pada anak tunanetra
cenderung mengalami hambatan atau kesulitan dalam cara-cara berpikirseperti
itu. Ketidakmampuannya dalam menggunakan indera penglihatan sebagai saluran
informasi cenderung mengakibatkan kesulitan dalam belajar mengklasifikasikan
objek-objek atau dasar satu ciri yang mencolok atau kriteria tertentu. Anak
mungkin dapat melakukan klasifikasi atas dasar ciri0ciri yang menonjol
berdasarkan dari proses pendengaran, perabaan, penciuman, atau pencecapan,
walaupun semua itu tergantungpada ada tidaknya suara, terjangkau tidaknya oleh
tangan, ada tidaknya bau serta rasa. Sedangkan klasifikasi yang berhubungna
dengan bentuk, keluasan/kedalaman, atau warna cenderung sulit atau bahkan tidak
dapat dilakukan. Dengan demikian secara keseluruhan pada tahap ini anak juga
akan mengalami keterlambatan dan menurut Piaget (Choirul Anam, 1985)
dibandingkan anak normal keterlambatan tersebut sekitar dua bulan.
Pada tahap
operasional konkrit, yang ditandai dengan kemampuannya dalam
mengklasifikasikan, menyusun, mengasosiasikan angka-angka atau bilangan, serta
proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika walau masih terikat
dengan objek-objek yang bersifat konkrit , maka bagi anak tunanetra dalam
batas-batas tertentu mungkin dapa dilakukan, namun secara umum akan sulit. Hal
ini dikarenakan sistem organisasi kognitif sebelumnya yang mutlak diperlukan
dalam cara-cara berpikir seperti diatas, ipada anak tunanetra tidak
terorganisasi secara utuh. Disamping itu tuntutan bagi anak untuk mampu
melakukan asosiasi serta operasi angka-angka atau bilangan juga sangat sulit
untuk dipenuhi, sekalipun masih terikat dengan hal-hal yang konkrit. Hal iini
disebabkan pengenalan atau pemahaman anak terhadap hal-hal yang sifatnya
konkrit juga sangat terbatas, sedangkan dalam pengasosiasian atau pengoperasian
bilangan tersebut biasanya sangat komplek dan menuntut kemampuan struktur
logika metematis yang penuh dengan kaidah-kaidah atau aturan-aturan yang
bersifat sosial dalam kehidupan nyata, walaupun mungkin tidak sesulit dalam
pengoperasian bilangan.
Pada tahap operasi
formal, yang ditandai dengan kemampuan untuk mengoperasikan kaidah-kaidah
formal yang tidak terkait lagi dengan objek-objek yang bersifat konkrit,
seperti kemampuan berpikir hipotesis dedukatif (hypothetic deducative
thingking), mengembangkan suatu kemungkinan
berdasarkan dua atau kebih kemungkinan (a combination thingking),
mengembangkan suatu proporsisiatau dasar-dasar proporsisi yang diketahui
(propositional thinking), serta kemampuan menarik generalisasi dan inferensi
dari berbagai katagori objek yang bervariasi, maka pada anak tunanetra dalam
hal-hal tertentu mungkin dapat dilakukan dengan baik, walaupun sifatnya sangat
verbalistis. Hal ini karena didalam pemikiran operasi formal berawal dari
kemungkinan-kemungkinan yang hipotetik dan teoretik dan bukan berawal dari
hal-hal yang nyata. Namun demikian, karena dalam perkembangan kognitif ini
sifatnya hirarkis, artinya tahapan sebelumnya akan menjadi dasar bagi
berkembangnya tahapan berikutnya, maka pencapaian tahapan operasi formal ini
juga tidak akan dicapai oleh anak tunanetra secara utuh. Masalah lain yang
menghambat ialah kurangnya pengalaman yang luas yang disebabkan oleh
terbatasnya jenis informasi yang dapat diterima serta keterbatasannya dalam
orientasi dan mobillitasnya.
Dikutip dari buku “Psikologi Anak Luar Biasa” karya Dra. H.
T. Sutjihati Soemantri, PsyCH.
1 komentar:
blognya menarik untuk dibaca :) bermanfaat juga :)
Posting Komentar