Penggunaan semua fungsi indra maupun fungsi motorik
sebagai eksplorasi terhadap lingkungan sekitar memiliki fungsi peranan yang
sangat penting. Namun, diantara pancaindra yang dimiliki manusia, indra
penglihatan menjadi indra terdepan, disamping fungsi organ fisik yang lain
mempunyai kontribusi yang
sangat berarti.
sangat berarti.
Mata
yang memiliki fungsi sebagai transmisi visual mampu memberikan kontribusi
sekitar 80-85% dalam perekaman interaksi manusia selama terjaga (Sadiman,2001).
Oleh karena itu, hilangnya sebagian atau keseluruhan fungsi mata sebagai indra
penglihatan pada seseorang berarti ia serasa telah kehilangan sebagian
perangkat hidup yang sangat berharga bagi dirinya.
Meskipun
penglihatan memiliki peranan yang sanga vital, namun
bukan berarti dengan
hilangnya fungsi penglihaatan manusia sama sekali tidak empunyai kesempatan
memperoleh pengalaman melalui berbagai interaksi dengan lingkungan sekitarnya,
melainkan ia masih dapat mensubtitusi hilangnya indra penglihatan tersebut
melalui kompensasi indra lain yang masih berfungsi, walaupun hasilnya tidak
secanggih dan selengkap jika dibarengi dengan penggunaan indra penglihatan.
Sebagai
alat penyatu yang memadukan dan menyusun suatu konsep, indra penglihatan memang
sangat representatif. Hal ini dikarenakan detail-detail objek atau peristiwa
yang ada disekitarnya dapat diapersepsi dengansempurna, mulai dari spesifikasi
gejala sampai terjadinya suatu proses, bahkan sampai terselesainya proses,
semua rangkaian peristiwa tersebut dengan mudah direkam melalui penglihatan.
Terlebih lagi jika fungsi indra penglihatan dibantu dengan indra yang lain,
maka pemahaman terhadap peristiwa dan objek yang dieksplorasimenjadi lebih
lengkap dan sempurna. Oleh karena itu, anak yang menggantungkan pada kemampuan
indranya selain penglihatan seperti anak tunanetra, maka cara anak tunanetra
mengembangkan pengertian tentang dunia sekitar jelas sberbeda dengan anak yang
dapat memanfaatkan penglihatannya.
Seorang
yang kehilangan penglihatan , biasanya pendengaran dan perabaan akan menjadi
sarana alternatif yang digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap lingkungan
sekitarnya. Kelebihan indra pendengaran sebagai transmisi dalam berinteraksi
dengan lingkungan bqgi qnqk tunanetra dapat membantu memberikan petunjuk
tentang jarak atau arah objek dengan mengenal suaranya (Cruickshank, 1980),
namun ia tidak dapat mengenal wujud konkret tentang objek yan dikenalnya.
Contohnya, ketika ada pesawat yang terbang melintas diatasnya. Dengar mendengar
suaranya, anak barangkali daoat mengenali karakteristik atau jenis bendanya
berdasarkan informasi pengalaman sebelumnya, tetapi ia tidak dapat mengenal
lebih jauh seperti apa bentuk pesawat terbang tersebut, bagaimana bentuk dan
ukurannya, spesifikasinya, cara berjalannya, baling-balingnya satu, dua, atau
tiga. Demikian pula jenisnya, apakah termasuk dalam katagori pesawat tempur
atau pesawat penumpang biasa, dan seterusnya.
Dengan
begitu banyaknya rangsang suara yang diterima melalui suara benda maupun suara
yang didengar dari orang lain disekitarnya, membuat khazanah pengetahuan anak
yang direspon dari lingkungan melalui stimulasi suara makin kaya, tetapi
seringkali suara yang berhasil ditangkap juga terdistorsi dengan suara lain,
atau benda dengan mental map yang
tumbuh dalam diri anak tunanetra. Oleh karena itu, tidak heran jika pengertian
anak tunanetra terhadap benda atu objek yang dikenalinya cenderung bersifat
verbalistis, yakni pengenalan sebatas kata-kata atau suara tanpa memahami makna
atau hakikat benda atau objek yang dikenalinya.
Perabaan
sebagai sarana altenatif lainnya setelah pendengaran, barangkali dapat membantu
bagi anak tunanetra untuk memperoleh pengalaman kinestetik. Melalui perabaan,
anak-anak tunanetra dapat langsung melakukan kontak dengan objek yang ada
disekitarnya. Urgensi perbaan bagi anak tunanetra dapat memberikan gambaran
secara konkret mengenai ukuran, posisi, temperatur, berat dan bentuk, disamping
itu juga berguna sebagai pengganti mata dalam kegiatan membaca tulisan yang
menggunakan huruf Braille. Khusus untuk kepentingan membaca huruf Braille,
kepekaan jari-jari tangan sebagai pengganti mata dituntut untuk memiliki
sensitivitas yang tinggi. Oleh karena itu, Kondisi jari-jari tangan disamping
dijaga dari hal-hal dapat mengganggu sensivitasnya juga dibantu dengan latihan
yang intensif untuk meningkatkan kepekaan hasil rabaan terhadap titik-titik
timbul yang menjadi formasi huruf pada tulisan Braille. Dengan meningkatkan
kepekaan jari-jari berarti membantu anak tunanetra membuka wawasan pengetahuan
melalui bahan pustaka Braille . Bentuk dan formasi huruf Braille yang
dikonstruksi dari kumpulan titik-titik timbul, baik yang dicetak dengan reglet atau mesin ketik Braille
komposisinya dapat disimak pada gambar 2.4 berikut:

Walaupun
pendengaran dan perabaan telah memberikan sumbangan ynag berarti sebagai
substitusi hilangnya penglihatan, tetapi keduanya mempunyai keterbatasan.
Sebagaimana diketahui bahwa karakteristik suara: a. Dibatasi oleh waktu, dan b.
Bersifat terporal. Oleh karena itu, agar tidak kehilangan momen-momen penting
dari suara yang ditangkap lewat indra pendengarannya, anak tunanetra perlu
menyimak secara seksama setiap momen suara yang ditangkapnya. Kesulitan lain
yang dihadapi oleh anak tunanetra dalam menyimak suara, jika pada saat yang
sama terjadi distorsi suara. Di sinilah kita terasa kesulitannya untuk
melakukan penyimakan suara bagi anak tunanetra.
Demikian
pula pemanfaatan fungsi perabaan sebagai sarana mengeksplorasi lingkungan
sekitar, hambatan yang paling menonjol dala, menggunakan perabaan bagi anak
tunanetra yakni dibatasi oleh jarak dan jangkauan. Berkenaan dengan jarak benda
yang bisa diraba anak tunanetra, jangkauan letaknya hanya sebatas apa yang ada
didepannya. Jikabenda itu ukurannya sangat besar, sperti gajah, pesawat
terbang, kapal, kereta, dan sejenisnya, mengalami kesulitan untuk menggapainya.
Atas dasar itulah, maka pengenalan anak tunanetra terhadap benda atau objek
yang sejenis dengan contoh tersebut seringkali tidak lengkap dan menyeluruh.
Kondisi
ini akan berbeda halnya jika dalam pengenalan objek atau peristiwa tersebut
dilakukan dengan memanfaatkan persepsi visual secara baik, maka objek-objek
yang lebih ekstrempun seperti matahariv, bulan, mendung, gunung berapi,b atau
benda-benda lain yang bergerak cepat, dapat diamati dan dipersepsikan tanpa
mengalami kesulitan yang berarti. Akibat ketidaklengkapannya pengenalan anak
tunanetra terhadap benda atau objek lain yang ada disekelilingnya, perkembangan
fubfsi kognitif anak tunanetra akan terhambat.
Berdasarkan
hasil observasi Toth (1930), Schlaegel (1953), anak yang menderita
ketunanetraan sejak lahir akan kehilangan penglihatan selama hidupnya, atau
anak yang kehlangan penglihatannya sebelum usia 5 tahun tidak akan menerima
gambaran penglihatan dengan baik, atau gambaran yang ada cenderung hilang
sebelum usia antara 5-7 tahun (dalam Cruickshank,1980).
Implikasi
dari pernyataan tersebut, anak yang mengalami ketunanetraan sejak lahir
mengalami kesulitan untuk menggambarkan hal-hal yang nyata, meskipun peristiwa
yang terjadi sangat sederhana dan mudah dikenal. Untuk itu anak tunanetra, tida
cukup hanya mengandalkan satu kemampuannya untuk bereksplorasi, melainkan perlu
mempertimbangkan berbagai potensi kemampuan lain secara integral. Misalnya, seorang
tnanetra yang sedang berjalan dibawah pohon dan mendengar angin kencang bertiup
menerpa daun-daun di pohon tersebut, maka asosiasinya akan bekerja menafsirkan
lewat pendengarannya, apakah pohon itu mempunyai daun yang lebat atau gersang,
kering atau basah, berapa tinggi pohon dari permukaan tanah, berapa lebar
daunnya, dan sebagainya. Untuk melengkapi penafsirannya, indra pembau akan turut
membantu apakah pohon itu memiliki bunga atau tidak, termasuk klasifikasi jenis
pohon tersebut. Untuk mengenali kuantitas dan kualitas pohon yang sebenarnya,
perlu melakukan kontak langsung untuk mengetahui ukuran atau bentuk daun,
batang, ranting, dan bunga. Di sinilah peranan gerak dan rabaan mendapatkan
porsinya.
Keterbatasan
daya raba anak tunanetra untuk membantu mengenal objek akan terhambat jika anak
tunanetra harus berhad7apan dengan bayangan besarnya gedung, gunung, matahari,
jalannya kereta api, mobil, bara api, dan sebagainya. Untuk itu, ada beberapa
pengecualian objek yang hanya bisa diperkenalkan lewat sajian informasi lisan
atau tertulis tanpa harus lewat kontak langsung, sebab jika hal itu dilakukan akan
sangat membahayakan keselamatannya.
Pengenalan
terhadap benda yang dapat dijangkau anak tunanetra melalui perabaan, dapat
dilakukan melalui dua cara yaitu:
1. Persepsi
Sintetik
Yaitu objek
yang diamati secara keseluruhan, baik diraba dengan satu tangan atau dua
tangan,, untuk selanjutnya diuraikan bagian-bagian tersebut.
2.
Persepsi Analitik
Yaitu
persepsi perabaan pada objek yang tidak tercakup satu atau dua tangan karena
objeknya terlalu besar sehingga prosesnya perlu menelusuri bagian dari objeknya
satu persatu (Moerdiani, 1987).
Penggunaan kedua macam cara persepsi
taktual tersebut agar diperoleh menjadi pengertian yang utuh, untuk selanjutnya
harus diikuti dengan proses men-tal, di mana gambaran yang diperoleh dari suatu
objek dipersatukan menjadi satu kesatuan sehingga diperoleh suatu konsep yang
utuh mengenai benda yang diamati.
Pengalaman
anak tunanetra dalam penggunaan rabaan yang dilakukan lewat persepsi Sintetik
dan Persepsi Analitik, dimulai dengan membandingkan realita pada anak normal
lewat observasi. Objek atau situasi yang diobservasi dapat dilakukan dalam
betuk nyatanya atau dalam sebuah model. Jika objeknya terlalu besar seperti
yang dicontohkan diatas atau sebaliknya terlalu kecil untuk dijangkau, perlu
dicarikan model yang setidaknya hampir serupa.
Untuk
mengenalkan objek dengan baik, maka objek yang diperkenalkan harus diraba
dengan tangan dan dilakukan secara detail serta berulang-ulang untuk memperoleh
pemahaman karakteristiknya. Atas dasar itulah kebutuhan waktu yang diperlukan
setiap individu untuk melakukan pengenalan objek dan peristiwa berbeda,
demikian kebutuhan anak suatu kelompok tertentu. Meskipun model yang
diperkenalkan itu hampir menyerupai dengan realitanya, namun peru disadari
bahwa hal itu tidak sama persis dengan kondisi aslinya. Dengan kata lain, model
yang dipergunakan sebagai pengganti memiliki berbagai kekurangan dalam
membentuk persepsi anak tunanetra secara utuh.
Apapun
alasannya, observasi anak tunanetra lewat model dalam memperoleh informasi jauh
lebih baik daripada hanya diucapkan. Mandola (1968) dalam suatu penelitiannya
mengemukakan, bahwa secara faktual model banyak digunakan guru anak tunanetra
sebagai alaat bantu untuk menjelaskan asumsi yang abstrak menjadi asumsi yang
konkret.
Adapun
indra-indra yang lain seperti penciuman, pengecap dan perasa, bagi anak
tunanetra berfungsi melengkapi perolehan informasi atas indra pendengaran dan
perabaan. Indra penciuman misalnya, bagi anak berkelainan penglihatan atau anak
tunanetra bermanfaat untuk mngetahui lokasi suatu objek atau memperoleh
informasi sifat dari objek. Indra pengecap untuk mengenali sifat-sifat dari
benda atau objek yang memerlukan kontak langsung, misalnya: rasa manis pada
gula, rasa asin pada garam, rasa pahit pada jamu, dan lain-lainnya. Sedangkan indra
perasa bagi anak tunanetra bermanfaat untuk memperoleh informasi tentang udara,
benda, besar angin, sengatan matahari, tekanan udara, dan lain-lainnya.
Berbicara
masalah fungsi indra, seringkali orang beranggapan bahwa anak tunanetra
mempunyai indra keenam. Anggapan ini didasarkan secara empiris menunjukkan
bahwa ketajaman fungsi indra anak tunanetra terkadang melebihi orang normal. Studi
yang dilakukan untuk mengungkap misteri tersebut, ternyata sulit untuk
dibuktikan bahwa kondisi ketunanetraan secara otomatis berpengaruh terhadap
fungsi indra keenam, melainkan kondisi tersebut terjadi sebagai hasil dari
pelatihan, praktik, adaptasi, dan peningkatan penggunaan indra yang masih
berfungsi.
Dikutip dari buku "Anak-Anak yang bermasalah" pengarang: Muhammad, Jamila K.A. Penerbit: Bandung:Mizan,2008
Dikutip dari buku "Anak-Anak yang bermasalah" pengarang: Muhammad, Jamila K.A. Penerbit: Bandung:Mizan,2008
1 komentar:
artikel anda sudah menarik , maksih atas ilmu yg anda share
Posting Komentar