Senin, 04 November 2013

Fungsi Panca Indra Bagi Anak Tunanetra



Penggunaan semua fungsi indra maupun fungsi motorik sebagai eksplorasi terhadap lingkungan sekitar memiliki fungsi peranan yang sangat penting. Namun, diantara pancaindra yang dimiliki manusia, indra penglihatan menjadi indra terdepan, disamping fungsi organ fisik yang lain mempunyai kontribusi yang
sangat berarti.

         Mata yang memiliki fungsi sebagai transmisi visual mampu memberikan kontribusi sekitar 80-85% dalam perekaman interaksi manusia selama terjaga (Sadiman,2001). Oleh karena itu, hilangnya sebagian atau keseluruhan fungsi mata sebagai indra penglihatan pada seseorang berarti ia serasa telah kehilangan sebagian perangkat hidup yang sangat berharga bagi dirinya.
         Meskipun penglihatan memiliki peranan yang sanga vital, namun
bukan berarti dengan hilangnya fungsi penglihaatan manusia sama sekali tidak empunyai kesempatan memperoleh pengalaman melalui berbagai interaksi dengan lingkungan sekitarnya, melainkan ia masih dapat mensubtitusi hilangnya indra penglihatan tersebut melalui kompensasi indra lain yang masih berfungsi, walaupun hasilnya tidak secanggih dan selengkap jika dibarengi dengan penggunaan indra penglihatan.
         Sebagai alat penyatu yang memadukan dan menyusun suatu konsep, indra penglihatan memang sangat representatif. Hal ini dikarenakan detail-detail objek atau peristiwa yang ada disekitarnya dapat diapersepsi dengansempurna, mulai dari spesifikasi gejala sampai terjadinya suatu proses, bahkan sampai terselesainya proses, semua rangkaian peristiwa tersebut dengan mudah direkam melalui penglihatan. Terlebih lagi jika fungsi indra penglihatan dibantu dengan indra yang lain, maka pemahaman terhadap peristiwa dan objek yang dieksplorasimenjadi lebih lengkap dan sempurna. Oleh karena itu, anak yang menggantungkan pada kemampuan indranya selain penglihatan seperti anak tunanetra, maka cara anak tunanetra mengembangkan pengertian tentang dunia sekitar jelas sberbeda dengan anak yang dapat memanfaatkan penglihatannya.
         Seorang yang kehilangan penglihatan , biasanya pendengaran dan perabaan akan menjadi sarana alternatif yang digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap lingkungan sekitarnya. Kelebihan indra pendengaran sebagai transmisi dalam berinteraksi dengan lingkungan bqgi qnqk tunanetra dapat membantu memberikan petunjuk tentang jarak atau arah objek dengan mengenal suaranya (Cruickshank, 1980), namun ia tidak dapat mengenal wujud konkret tentang objek yan dikenalnya. Contohnya, ketika ada pesawat yang terbang melintas diatasnya. Dengar mendengar suaranya, anak barangkali daoat mengenali karakteristik atau jenis bendanya berdasarkan informasi pengalaman sebelumnya, tetapi ia tidak dapat mengenal lebih jauh seperti apa bentuk pesawat terbang tersebut, bagaimana bentuk dan ukurannya, spesifikasinya, cara berjalannya, baling-balingnya satu, dua, atau tiga. Demikian pula jenisnya, apakah termasuk dalam katagori pesawat tempur atau pesawat penumpang biasa, dan seterusnya.
         Dengan begitu banyaknya rangsang suara yang diterima melalui suara benda maupun suara yang didengar dari orang lain disekitarnya, membuat khazanah pengetahuan anak yang direspon dari lingkungan melalui stimulasi suara makin kaya, tetapi seringkali suara yang berhasil ditangkap juga terdistorsi dengan suara lain, atau benda dengan mental map yang tumbuh dalam diri anak tunanetra. Oleh karena itu, tidak heran jika pengertian anak tunanetra terhadap benda atu objek yang dikenalinya cenderung bersifat verbalistis, yakni pengenalan sebatas kata-kata atau suara tanpa memahami makna atau hakikat benda atau objek yang dikenalinya.
         Perabaan sebagai sarana altenatif lainnya setelah pendengaran, barangkali dapat membantu bagi anak tunanetra untuk memperoleh pengalaman kinestetik. Melalui perabaan, anak-anak tunanetra dapat langsung melakukan kontak dengan objek yang ada disekitarnya. Urgensi perbaan bagi anak tunanetra dapat memberikan gambaran secara konkret mengenai ukuran, posisi, temperatur, berat dan bentuk, disamping itu juga berguna sebagai pengganti mata dalam kegiatan membaca tulisan yang menggunakan huruf Braille. Khusus untuk kepentingan membaca huruf Braille, kepekaan jari-jari tangan sebagai pengganti mata dituntut untuk memiliki sensitivitas yang tinggi. Oleh karena itu, Kondisi jari-jari tangan disamping dijaga dari hal-hal dapat mengganggu sensivitasnya juga dibantu dengan latihan yang intensif untuk meningkatkan kepekaan hasil rabaan terhadap titik-titik timbul yang menjadi formasi huruf pada tulisan Braille. Dengan meningkatkan kepekaan jari-jari berarti membantu anak tunanetra membuka wawasan pengetahuan melalui bahan pustaka Braille . Bentuk dan formasi huruf Braille yang dikonstruksi dari kumpulan titik-titik timbul, baik yang dicetak dengan reglet atau mesin ketik Braille komposisinya dapat disimak pada gambar 2.4 berikut:
         Walaupun pendengaran dan perabaan telah memberikan sumbangan ynag berarti sebagai substitusi hilangnya penglihatan, tetapi keduanya mempunyai keterbatasan. Sebagaimana diketahui bahwa karakteristik suara: a. Dibatasi oleh waktu, dan b. Bersifat terporal. Oleh karena itu, agar tidak kehilangan momen-momen penting dari suara yang ditangkap lewat indra pendengarannya, anak tunanetra perlu menyimak secara seksama setiap momen suara yang ditangkapnya. Kesulitan lain yang dihadapi oleh anak tunanetra dalam menyimak suara, jika pada saat yang sama terjadi distorsi suara. Di sinilah kita terasa kesulitannya untuk melakukan penyimakan suara bagi anak tunanetra.
         Demikian pula pemanfaatan fungsi perabaan sebagai sarana mengeksplorasi lingkungan sekitar, hambatan yang paling menonjol dala, menggunakan perabaan bagi anak tunanetra yakni dibatasi oleh jarak dan jangkauan. Berkenaan dengan jarak benda yang bisa diraba anak tunanetra, jangkauan letaknya hanya sebatas apa yang ada didepannya. Jikabenda itu ukurannya sangat besar, sperti gajah, pesawat terbang, kapal, kereta, dan sejenisnya, mengalami kesulitan untuk menggapainya. Atas dasar itulah, maka pengenalan anak tunanetra terhadap benda atau objek yang sejenis dengan contoh tersebut seringkali tidak lengkap dan menyeluruh.
         Kondisi ini akan berbeda halnya jika dalam pengenalan objek atau peristiwa tersebut dilakukan dengan memanfaatkan persepsi visual secara baik, maka objek-objek yang lebih ekstrempun seperti matahariv, bulan, mendung, gunung berapi,b atau benda-benda lain yang bergerak cepat, dapat diamati dan dipersepsikan tanpa mengalami kesulitan yang berarti. Akibat ketidaklengkapannya pengenalan anak tunanetra terhadap benda atau objek lain yang ada disekelilingnya, perkembangan fubfsi kognitif anak tunanetra akan terhambat.
         Berdasarkan hasil observasi Toth (1930), Schlaegel (1953), anak yang menderita ketunanetraan sejak lahir akan kehilangan penglihatan selama hidupnya, atau anak yang kehlangan penglihatannya sebelum usia 5 tahun tidak akan menerima gambaran penglihatan dengan baik, atau gambaran yang ada cenderung hilang sebelum usia antara 5-7 tahun (dalam Cruickshank,1980).
         Implikasi dari pernyataan tersebut, anak yang mengalami ketunanetraan sejak lahir mengalami kesulitan untuk menggambarkan hal-hal yang nyata, meskipun peristiwa yang terjadi sangat sederhana dan mudah dikenal. Untuk itu anak tunanetra, tida cukup hanya mengandalkan satu kemampuannya untuk bereksplorasi, melainkan perlu mempertimbangkan berbagai potensi kemampuan lain secara integral. Misalnya, seorang tnanetra yang sedang berjalan dibawah pohon dan mendengar angin kencang bertiup menerpa daun-daun di pohon tersebut, maka asosiasinya akan bekerja menafsirkan lewat pendengarannya, apakah pohon itu mempunyai daun yang lebat atau gersang, kering atau basah, berapa tinggi pohon dari permukaan tanah, berapa lebar daunnya, dan sebagainya. Untuk melengkapi penafsirannya, indra pembau akan turut membantu apakah pohon itu memiliki bunga atau tidak, termasuk klasifikasi jenis pohon tersebut. Untuk mengenali kuantitas dan kualitas pohon yang sebenarnya, perlu melakukan kontak langsung untuk mengetahui ukuran atau bentuk daun, batang, ranting, dan bunga. Di sinilah peranan gerak dan rabaan mendapatkan porsinya.
         Keterbatasan daya raba anak tunanetra untuk membantu mengenal objek akan terhambat jika anak tunanetra harus berhad7apan dengan bayangan besarnya gedung, gunung, matahari, jalannya kereta api, mobil, bara api, dan sebagainya. Untuk itu, ada beberapa pengecualian objek yang hanya bisa diperkenalkan lewat sajian informasi lisan atau tertulis tanpa harus lewat kontak langsung, sebab jika hal itu dilakukan akan sangat membahayakan keselamatannya.
         Pengenalan terhadap benda yang dapat dijangkau anak tunanetra melalui perabaan, dapat dilakukan melalui dua cara yaitu:
1.       Persepsi Sintetik
Yaitu objek yang diamati secara keseluruhan, baik diraba dengan satu tangan atau dua tangan,, untuk selanjutnya diuraikan bagian-bagian tersebut.
2.       Persepsi Analitik
Yaitu persepsi perabaan pada objek yang tidak tercakup satu atau dua tangan karena objeknya terlalu besar sehingga prosesnya perlu menelusuri bagian dari objeknya satu persatu (Moerdiani, 1987).
         Penggunaan kedua macam cara persepsi taktual tersebut agar diperoleh menjadi pengertian yang utuh, untuk selanjutnya harus diikuti dengan proses men-tal, di mana gambaran yang diperoleh dari suatu objek dipersatukan menjadi satu kesatuan sehingga diperoleh suatu konsep yang utuh mengenai benda yang diamati.
Pengalaman anak tunanetra dalam penggunaan rabaan yang dilakukan lewat persepsi Sintetik dan Persepsi Analitik, dimulai dengan membandingkan realita pada anak normal lewat observasi. Objek atau situasi yang diobservasi dapat dilakukan dalam betuk nyatanya atau dalam sebuah model. Jika objeknya terlalu besar seperti yang dicontohkan diatas atau sebaliknya terlalu kecil untuk dijangkau, perlu dicarikan model yang setidaknya hampir serupa.
Untuk mengenalkan objek dengan baik, maka objek yang diperkenalkan harus diraba dengan tangan dan dilakukan secara detail serta berulang-ulang untuk memperoleh pemahaman karakteristiknya. Atas dasar itulah kebutuhan waktu yang diperlukan setiap individu untuk melakukan pengenalan objek dan peristiwa berbeda, demikian kebutuhan anak suatu kelompok tertentu. Meskipun model yang diperkenalkan itu hampir menyerupai dengan realitanya, namun peru disadari bahwa hal itu tidak sama persis dengan kondisi aslinya. Dengan kata lain, model yang dipergunakan sebagai pengganti memiliki berbagai kekurangan dalam membentuk persepsi anak tunanetra secara utuh.
Apapun alasannya, observasi anak tunanetra lewat model dalam memperoleh informasi jauh lebih baik daripada hanya diucapkan. Mandola (1968) dalam suatu penelitiannya mengemukakan, bahwa secara faktual model banyak digunakan guru anak tunanetra sebagai alaat bantu untuk menjelaskan asumsi yang abstrak menjadi asumsi yang konkret.
Adapun indra-indra yang lain seperti penciuman, pengecap dan perasa, bagi anak tunanetra berfungsi melengkapi perolehan informasi atas indra pendengaran dan perabaan. Indra penciuman misalnya, bagi anak berkelainan penglihatan atau anak tunanetra bermanfaat untuk mngetahui lokasi suatu objek atau memperoleh informasi sifat dari objek. Indra pengecap untuk mengenali sifat-sifat dari benda atau objek yang memerlukan kontak langsung, misalnya: rasa manis pada gula, rasa asin pada garam, rasa pahit pada jamu, dan lain-lainnya. Sedangkan indra perasa bagi anak tunanetra bermanfaat untuk memperoleh informasi tentang udara, benda, besar angin, sengatan matahari, tekanan udara, dan lain-lainnya.
Berbicara masalah fungsi indra, seringkali orang beranggapan bahwa anak tunanetra mempunyai indra keenam. Anggapan ini didasarkan secara empiris menunjukkan bahwa ketajaman fungsi indra anak tunanetra terkadang melebihi orang normal. Studi yang dilakukan untuk mengungkap misteri tersebut, ternyata sulit untuk dibuktikan bahwa kondisi ketunanetraan secara otomatis berpengaruh terhadap fungsi indra keenam, melainkan kondisi tersebut terjadi sebagai hasil dari pelatihan, praktik, adaptasi, dan peningkatan penggunaan indra yang masih berfungsi.

Dikutip dari buku "Anak-Anak yang bermasalah" pengarang: Muhammad, Jamila K.A. Penerbit: Bandung:Mizan,2008 

1 komentar:

Unknown mengatakan...

artikel anda sudah menarik , maksih atas ilmu yg anda share

Thank You Comments Pictures