Jumat, 01 November 2013

Klasifikasi Anak Tunanetra



Derajat tunanetra berdasarkan distribusinya berada dalam rentangan yang berjenjang dari yang ringan sampai yang berat. Berat ringannya jenjang ketunanetraan didasarkan kemampuan untuk melihat bayangan benda. Lebih jelasnya jenjang kelainan ditinjau dari ketajaman untuk melihat bayangan benda dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut:
1.       Anak yang mengalami kelainan penglihatan yang mempunyai
kemampuan dikoreksi dengan penyembuhan pengobatan atau alat optik tertentu. Anak yang termasuk didalam kelompok ini tidak dikatagorikan dalam kelompok anak tunanetra sebab ia dapat menggunakan fungsi penglihatan dengan baik untuk kegiatan belajar.
2.       Anak yang mengalami kelainan penglihatan, meskipun dikoreksi dengan pengobatan atau alat optik tertentu masih mengalami kesulitan mengikuti kelas reguler sehingga
diperlukan kompensasi pengajaran untuk mengganti kekurangannya. Anak yang memiliki kelainan penglihatan dalam kelompok kedua dapat dikatagorikan sebagai anak tunanetra ringan sebab ia masih bisa membedakan bayangan. Dalam praktik percakapan sehari-hari anak yang masuk dalam kelompok kedua ini lazim disebut anak tunanetra sebagian (partially seeing-children)
3.       Anak yang mengalami kelainan penglihatan yang tidak dapat dikoreksi dengan pengobatan atau alat optik apapun, karena anak tidak mampu lagi memanfaatkan indra penglihatannya. Ia hanya dapat dididik melalui saluran lain selain mata. Dalam percakapan sehari-hari, anak yang memiliki kelainan penglihatan dalam kelompok ini dikenal dengan Buta (tunanetra berat). Terminologi buta berdasarkan rekomendasi dari The White House Conference on Child Health and Education di Amerika (1930), “Seseorang dikatakan buta jika tidak dapat mempergunakan penglihatannya untuk kepentingan pendidikannya” (Patton, 1991).
Cruickshank (1980) menelaah jenjang ketunanetraan berdasarkan pengaruh gradasi kelainan penglihatan terhadap aktivitas ingatannya, dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut:
·           Anak tunanetra total bawaan atau yang diderita sebelum usia 5 tahun.
·           Anak tunanetra total yang diderita setelah usia 5 tahun.
·           Anak tunanetra sebagian karena faktor bawaan.
·           Anak tunanetra sebagian akibat sesuatu yang didapat kemudian.
·           Anak dapat melihat sebagian karena faktor bawaan.
4.       Anak dapat melihat sebagian akibat tertentu yang didapat kemudian.
Anak tunanetra termasuk dalam nomor 1 samapai dengan nomor 4 termasuk dalam katagori perlu mendapat intervensi dan modifikasi program layanan pendidikan khusus sesuai dengan kebutuhannya.
Hartfield (1975) dalam penelitiannya menemukan bahwa 51,4% siswa yang lahir tunanetra, 25,2% diantaranya mengalami ketunanetraan pada tahun pertama. Dengan rincian 31,2% akibat indra penglihatannya tidak berfungsi 29,7% memiliki ketajaman penglihatan 5/200 sampai 20/200, 32,6% memiliki ketajaman penglihatan diatas 20/200 dan sisanya tidak diketahui (dalam Cruickshank, 1980).
Distribusi gradasi ketajaman penglihatan untuk kepentingan layanan pendidikannya, The Setion an Opthalmology of America Medical Association menyusun daftar persentase kehilangan ketajaman penglihatan disajikan pada tabel 2.1 berikut
Tabel 2.1
Persentase Kehilangan Ketajaman Penglihatan
Snellen (dalam Pecahan)
Ketajaman Penglihatan
Meter
Feet
Efisiensi
Kehilangan
6/6
20/20
100,0
0,0
6/9
20/30
91,5
8,5
6/12
20/40
83,6
16,4
6/15
20/50
76,5
23,5
6/21
20/70
64,0
36,0
6/30
20/100
48,9
51,1
6/60
20/200
20,0
80,0

Contohnya, jika anak mempunyai ketajaman penglihatan 6/15 pada satuan meter atau 20/50 pada satuan feet (lihat tabel 2.1) berarti ia memiliki kemampuan sama dengan 76,5% dan kekurangannya sebesar 23,5%. Penggunaan jarak 20 kaki untuk tes ketajaman pennglihatan karena pada jarak tersebut berkas sinar akan sejajar mencapai mata, dan sedikit akomodasi yang diperlukan untuk memfokuskan cahaya pada retina sehingga mata benar-benar rileks.
Persentasi distribusi frekuensi anak tunanetra menurut derajat keturunannya dapat dilihat pada tabel 2.2
Tabel 2.2
Komposisi Tunanetra Menurut Derajat Keturunannya
No.
Derajat Kelainan
%
1
Normal Penglihatan
80,00
2
Kelainan yag dapat diperbaiki
19,75
3
Melihat sebagian dengan layanan khusus
0,20
4
Buta
0,05
Jumlah
100,0
(Krik, 1970)
Hatfield (1975) mencatat hasil surveinya terhadap anak tunanetra tingkat sekolah dasar dan menengah yang terdaftar di American Printing House, bahwa angka kebutaan mencapai 29,3% per 100.000 siswa yang mengalami ketunanetraan atau 1:2.500. Atau hampir 1 diantara 3 siswa yang mengalami ketunanetraan termasuk dalam klasifikasi buuta total (dalam Cruickshank, 1980).

Dikutip dari buku "Anak-Anak yang bermasalah" pengarang: Muhammad, Jamila K.A. Penerbit: Bandung:Mizan,2008 

0 komentar:

Thank You Comments Pictures