Derajat
tunanetra berdasarkan distribusinya berada dalam rentangan yang berjenjang dari
yang ringan sampai yang berat. Berat ringannya jenjang ketunanetraan didasarkan
kemampuan untuk melihat bayangan benda. Lebih jelasnya jenjang kelainan
ditinjau dari ketajaman untuk melihat bayangan benda dapat dikelompokkan
menjadi sebagai berikut:
1.
Anak yang mengalami kelainan penglihatan yang
mempunyai
kemampuan dikoreksi dengan penyembuhan pengobatan atau alat optik tertentu. Anak yang termasuk didalam kelompok ini tidak dikatagorikan dalam kelompok anak tunanetra sebab ia dapat menggunakan fungsi penglihatan dengan baik untuk kegiatan belajar.
kemampuan dikoreksi dengan penyembuhan pengobatan atau alat optik tertentu. Anak yang termasuk didalam kelompok ini tidak dikatagorikan dalam kelompok anak tunanetra sebab ia dapat menggunakan fungsi penglihatan dengan baik untuk kegiatan belajar.
2. Anak
yang mengalami kelainan penglihatan, meskipun dikoreksi dengan pengobatan atau
alat optik tertentu masih mengalami kesulitan mengikuti kelas reguler sehingga
diperlukan kompensasi pengajaran untuk mengganti kekurangannya. Anak yang
memiliki kelainan penglihatan dalam kelompok kedua dapat dikatagorikan sebagai
anak tunanetra ringan sebab ia masih bisa membedakan bayangan. Dalam praktik
percakapan sehari-hari anak yang masuk dalam kelompok kedua ini lazim disebut
anak tunanetra sebagian (partially
seeing-children)
3. Anak
yang mengalami kelainan penglihatan yang tidak dapat dikoreksi dengan
pengobatan atau alat optik apapun, karena anak tidak mampu lagi memanfaatkan
indra penglihatannya. Ia hanya dapat dididik melalui saluran lain selain mata.
Dalam percakapan sehari-hari, anak yang memiliki kelainan penglihatan dalam
kelompok ini dikenal dengan Buta (tunanetra berat). Terminologi buta
berdasarkan rekomendasi dari The White House
Conference on Child Health and Education di Amerika (1930), “Seseorang
dikatakan buta jika tidak dapat mempergunakan penglihatannya untuk kepentingan
pendidikannya” (Patton, 1991).
Cruickshank
(1980) menelaah jenjang ketunanetraan berdasarkan pengaruh gradasi kelainan
penglihatan terhadap aktivitas ingatannya, dapat dikelompokkan menjadi sebagai
berikut:
·
Anak tunanetra total bawaan atau yang diderita
sebelum usia 5 tahun.
·
Anak tunanetra total yang diderita setelah usia
5 tahun.
·
Anak tunanetra sebagian karena faktor bawaan.
·
Anak tunanetra sebagian akibat sesuatu yang
didapat kemudian.
·
Anak dapat melihat sebagian karena faktor
bawaan.
4.
Anak dapat melihat sebagian akibat tertentu yang
didapat kemudian.
Anak tunanetra
termasuk dalam nomor 1 samapai dengan nomor 4 termasuk dalam katagori perlu
mendapat intervensi dan modifikasi program layanan pendidikan khusus sesuai
dengan kebutuhannya.
Hartfield
(1975) dalam penelitiannya menemukan bahwa 51,4% siswa yang lahir tunanetra,
25,2% diantaranya mengalami ketunanetraan pada tahun pertama. Dengan rincian 31,2%
akibat indra penglihatannya tidak berfungsi 29,7% memiliki ketajaman penglihatan
5/200 sampai 20/200, 32,6% memiliki ketajaman penglihatan diatas 20/200 dan
sisanya tidak diketahui (dalam Cruickshank, 1980).
Distribusi
gradasi ketajaman penglihatan untuk kepentingan layanan pendidikannya, The
Setion an Opthalmology of America Medical Association menyusun daftar
persentase kehilangan ketajaman penglihatan disajikan pada tabel 2.1 berikut
Tabel 2.1
Persentase Kehilangan Ketajaman Penglihatan
Snellen (dalam Pecahan)
|
Ketajaman Penglihatan
|
||
Meter
|
Feet
|
Efisiensi
|
Kehilangan
|
6/6
|
20/20
|
100,0
|
0,0
|
6/9
|
20/30
|
91,5
|
8,5
|
6/12
|
20/40
|
83,6
|
16,4
|
6/15
|
20/50
|
76,5
|
23,5
|
6/21
|
20/70
|
64,0
|
36,0
|
6/30
|
20/100
|
48,9
|
51,1
|
6/60
|
20/200
|
20,0
|
80,0
|
Contohnya, jika
anak mempunyai ketajaman penglihatan 6/15 pada satuan meter atau 20/50 pada
satuan feet (lihat tabel 2.1) berarti ia memiliki kemampuan sama dengan 76,5%
dan kekurangannya sebesar 23,5%. Penggunaan jarak 20 kaki untuk tes ketajaman
pennglihatan karena pada jarak tersebut berkas sinar akan sejajar mencapai
mata, dan sedikit akomodasi yang diperlukan untuk memfokuskan cahaya pada
retina sehingga mata benar-benar rileks.
Persentasi
distribusi frekuensi anak tunanetra menurut derajat keturunannya dapat dilihat
pada tabel 2.2
Tabel 2.2
Komposisi Tunanetra Menurut Derajat Keturunannya
No.
|
Derajat
Kelainan
|
%
|
1
|
Normal Penglihatan
|
80,00
|
2
|
Kelainan yag dapat diperbaiki
|
19,75
|
3
|
Melihat sebagian dengan layanan khusus
|
0,20
|
4
|
Buta
|
0,05
|
Jumlah
|
100,0
|
|
(Krik, 1970)
Hatfield
(1975) mencatat hasil surveinya terhadap anak tunanetra tingkat sekolah dasar
dan menengah yang terdaftar di American Printing
House, bahwa angka kebutaan mencapai 29,3% per 100.000 siswa yang mengalami
ketunanetraan atau 1:2.500. Atau hampir 1 diantara 3 siswa yang mengalami
ketunanetraan termasuk dalam klasifikasi buuta total (dalam Cruickshank, 1980).
Dikutip dari buku "Anak-Anak yang bermasalah" pengarang: Muhammad, Jamila K.A. Penerbit: Bandung:Mizan,2008
Dikutip dari buku "Anak-Anak yang bermasalah" pengarang: Muhammad, Jamila K.A. Penerbit: Bandung:Mizan,2008
0 komentar:
Posting Komentar